Galuh Purba : Kerajaan Tertua di Tanah Jawa dari Lereng Gunung Slamet

Peta Kuno yang Menggambarkan Pulau Jawa (Dok : www.kebudayaan.kemendikbud.go.id)
Gunung Slamet merupakan gunung terbesar di Jawa Dwipa. Tingginya yang mencapai 3.428 mdpl menempatkan sebagai puncak terdekat kedua dengan langit di Tlatah Jawa setelah Semeru. Gunung yang dahulu dikenal sebagai Gunung Ghora atau Gunung Agung karena kebesarannya itu masih berstatus aktif hingga kini.

Aktivitas vulkanis Gunung Slamet memberikan berkah kesuburan luar biasa, tak heran jika manusia sudah eksis di lereng-lereng gunung itu sejak ribuan tahun silam. Gunung Slamet pun dipuja untuk dimohon berkahnya dan dijauhkan amarahnya.

Semakin lama, manusia semakin banyak datang dan berkembang di sekitar Gunung Slamet. Mereka saling berinteraksi, kemudian berhimpun membentuk sebuah institusi, maka terbentuklah kampung, dusun, desa sampai yang lebih tinggi yaitu kerajaan.

Berdasarkan catatan Sejarawan Belanda W.J. van der Meulen, SJ dalam bukunya ‘Indonesia di Ambang Sejarah’ (1988), pada abad ke-1 Masehi, terbentuklah kerajaan pertama di Pulau Jawa. Kerajaan yang berpusat di lereng Gunung Slamet itu bernama Galuh Purba.

W.J. Van der Meulen, SJ adalah seorang misionaris Katholik, juga pendidik yang berasal dari Ordo Societas Jesus (Serikat Yesus). Keahlian pendidikannya di bidang filsafat dan sejarah. Ia adalah pengajar di Yayasan Loyola Semarang dan mendidikan Program Studi Sejarah Univesitas Sanata Dharma.

Indonesia di Ambang Sejarah (Dok : Perpustakaan Bung Karno)
Para pendiri Kerajaan Galuh Purba merupakan pendatang yang berasal dari Kutai Kalimantan Timur pada zaman pra Hindu atau sebelum terbentuknya Kerajaan Kutai Kertanegara. Mereka masuk melalui Cirebon, lalu berpencar di pedalaman dan mengembangkan peradaban di sekitar Gunung Cermai, Gunung Slamet, dan Lembah Sungai Serayu.

Mereka yang menetap di sekitar Gunung Cermai mengembangkan peradaban Sunda. Sedang yang berada di Gunung Slamet berinteraksi dengan penduduk setempat dan kemudian mendirikan Kerajaan Galuh Purba. Konon, inilah kerajaan yang menjadi induk serta menurunkan para penguasa raja-raja di Jawa.

Galuh Purba tumbuh dan berkembang menjadi kerajaan yang besar dan disegani. Menurut Van der Meulen, hingga abad ke-6 M wilayah kekuasaannya cukup luas meliputi daerah Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Kedu, Kulonprogo dan Purwodadi.

Kerajaan itu mengalami pasang surut. Prasasti Bogor menyebut pamor Galuh Purba mengalami penurunan saat Syailendra menunjukkan eksistensi wangsanya. Selain itu, juga berkembang kerajaan dan kadipaten di berbagai pelosok Jawa dengan pemimpin yang sebenarnya masih berkerabat. Semuanya menggunakan nama Galuh. Ada Kerajaan Galuh Rahyang dan Galuh Kalangon yang lokasi di Brebes, ibukota di Medang Pangramesan.

Kemudian, Galuh Lalean di Cilacap dengan ibukota Medang Kamulan, Galuh Tanduran di Pananjung dengan ibukota Bagolo, Galuh Kumara lokasi di Tegal dengan ibukota Medangkamulyan, Galuh Pataka lokasi di Nanggalacah ibukotanya Pataka. Lalu ada Galuh Nagara Tengah di Cineam beribukota Bojonglopang, Galuh Imbanagara di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara dan Galuh Kalingga lokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan

Selanjutnya, atas berbagai sebab, Kerajaan Galuh Purba kemudian berpindah ke Kawali (dekat Garut sekarang) dan mengganti namanya menjadi Galuh Kawali.

Pada saat yang sama muncul juga kerajaan-kerajaan yang cukup besar, di timur ada Kerajaan Kalingga sedangkan di wilayah barat berkembang Kerajaan Tarumanegara yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Salakanegara. Ini semakin menggerogoti eksistensi dan wilayah Galuh Purba, bahkan, pada saat Purnawarman menjadi Raja Tarumanegara, kerajaan Galuh Kawali menjadi bawahannya.

Namun saat Purnawarman lengser dan digantikan Raja Candrawarman, pamor Galuh Kawali kembali menanjak. Sampai pemerintahan Raja Tarusbawa Wretikandayun, Raja Galuh Kawali menyetakan kemerdekaanya dari Tarumanegara dan mendapat dukungan dari Kerajaan Kalingga. Lalu kerajaan ini mengubah kembali namanya menjadi Kerajaan Galuh, dengan pusat pemerintahan di Banjar Pataruman. Kerajaan Galuh inilah yang di kemudian hari berkembang menjadi Kerajaan Pajajaran.

Para bangsawan dari Kerajaan Galuh, Kalinga dan Tarumanegara ini kawin-mawin sehingga muncul Dinasti Sanjaya. Hasil perkawinan itulah yang melahirkan raja-raja di Tanah Jawa. Oleh karena itu, bisa dibilang Galuh Purba dari Lereng Gunung Slamet inilah induk dari kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Jejak ‘ketuaan’ Galuh Purba bisa terlihat dalam kajian E.M. Uhlenbeck yang ditungkan dalam bukunya : “A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura” (1964) yang menyiratkan bahwa rumpun Bahasa Banyumasan lebih tua dibandingkan dari sub bahasa yang digunakan oleh masyarakat di Pulau Jawa lainnya. Bahasa Ngapak inilah yang ditengarai digunakan oleh masyarakat Kerajaan Galuh Purba.

Kini, bahasa bercorak Banyumasan terbagi dalam sub dialek Banten Lor, sub dialek Cirebon / Indramayu, sub dialek Tegalan, sub dialek Banyumas, dan sub dialek Bumiayu (peralihan Tegalan dengan Banyumas).

Dengan berbagai fakta tersebut, tak heran jika Gunung Slamet mempunyai arti penting bagi para raja-raja di Tlatah Sunda. Mereka punya kedekatan karena dari lereng Gunung Slamet-lah mereka berasal.

Pada beberapa kisah sejarah dan legenda, banyak Bangsawan Sunda yang menyepi ke Wilayah Panginyongan. Misalnya, Syeh Jambu Karang, pendiri Perdikan Cahyana dan diakui sebagai leluhur Wong Purbalingga adalah pangeran dari Kerajaan Pajajaran bernama Raden Mundingwangi. Petilasannya yang ada di Gunung Ardi Lawet, Desa Panusupan, Kecamatan Rembang masih dikeramatkan hingga kini.

Ada banyak nama tempat juga dekat dengan Bahasa Sunda, misalkan ada Sungai Ideng (hideung = hitam), Sungai Kahuripan (hurip = hidup), Onje (honje = kecombrang = bunga burus), Gunung Cahyana dan lainnya. Ada juga Legenda Suku Pijajaran atau Wong Alas Carang Lembayung di masyarakat sekitar hutan pegunungan utara Purbalingga yang dipercaya merupakan prajurit pengawal Raden Munding Wangi.

(Soal Legenda Suku Pijajaran bisa dibaca di sini. Soal Perdikan Cahyana ada di link ini)

Kemudian, kompleks Goa Lawa / Lava Purbalingga (Golaga), Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja ada petilasan yang dipercaya berhubungan dengan tokoh-tokoh dari Kerajaan Pajajaran. Pertama, ada tumpukan batu yang disebut sebagi lokasi Pertapaan Prabu Siliwangi. Kedua, ada Gua Ratu Ayu yang dihuni oleh Endang Murdiningsih dan Endang Murdaningrum, dua putri Prabu Siliwangi. Mereka berdua ditemani tiga ekor maung, berwarna hitam, putih dan kuning.

Tempat-tempat tersebut pada hari-hari tertentu, menurut penuturan Mbah Surip kuncen Golaga, sering didatangi oleh para peziarah, termasuk dari Jawa Barat seperti Cirebon, Indramayu, Bogor, Garut dan lainnya.

Gua Ratu Ayu di Kompleks Gua Lawa Purbalingga (Dok : Pribadi)
Pertautan antara Tokoh-tokoh Pajajaran dengan wilayah-wilayah di Gunung Slamet serta kisah yang melingkupinya tersebut menandakan adanya hubungan yang cukup erat. Mereka datang ke wilayah ‘Bumi Panginyongan’ bukan tanpa maksud, melainkan ‘pulang kampung’ ke tanah leluhurnya.

Analisis Van der Meulen bisa jadi benar bahwa Kerajaan Galuh Purba di Lereng Gunung Slamet adalah induk dari kerajaan-kerajaan yang ada di Tanah Jawa.

Kaya kue lur... Cocok karo impen?

Sumber :

Buku ‘Indonesia di Ambang Sejarah’ karya W.J. Van der Meulen, SJ (1988)

Artikel Hasan Kurniawan ‘Gunung Slamet dan Sejarah kerajaan Galuh Purba’ yang bisa dibaca di sini 

Artikel Widodo Nugroho ‘Menurut Van der Meulen Gunung Slamet Pusat kerajaan Galuh Purba’ yang bisa dibaca di sini 

Artikel Arti dan Pengertian Galuh yang bisa dibaca di sini 

igo saputra Orang yang suka berkhayal dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan. Jangan berhenti berimaji..

0 Response to "Galuh Purba : Kerajaan Tertua di Tanah Jawa dari Lereng Gunung Slamet"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel