Perang Biting, Fragmen Perang Diponegoro di Purbalingga

Ilustrasi Perang Diponegoro (Dok : Tribunnews Wiki)
Perang Jawa yang dikobarkan Pangeran Diponegoro menentang kesewenang-wenangan Kompeni Belanda berkecamuk dahsyat selama kurang lebih lima tahun (1825-1830). Hampir seluruh Tanah Jawa membara pada peristiwa yang dikenal dengan The Java War atau De Javanese Oorlog itu.

Pada medan laga tak hanya pribumi melawan pasukan kumpeni, namun antar pribumi, melibatkan juga Para Kapiten Tionghoa, Jawara Banten, Pasukan Madura, Bugis dan lainnya. Perang yang konon paling merepotkan dan membuat kewalahan Pemerintah Kolonial Belanda. Palaganya tak hanya di Jogjakarta namun merembes sampai ke wilayah barat yaitu Banyumas Raya termasuk Purbalingga.

Pada sekitar akhir tahun 1829, pasukan gabungan Pangeran Diponegoro sampai di wilayah Purbalingga dari arah timur. Saat itu, Purbalingga merupakan daerah bawahan Keraton Surakarta yang lebih condong menyokong Belanda. Oleh karena itu, tentu saja mereka tak tinggal diam dan merasa terancam dengan invansi Pasukan Diponegoro.

Bupati Purbalingga saat itu, Raden Tumenggung Brotosudiro memerintahkan warganya yang berusia produktif untuk bersiap angkat senjata. Warga di Desa Cilapar, Selanegara, Kaligondang, Selakambang dan sekitarnya ditugaskan membangun parit-parit sebagai garis pertahanan membendung Pasukan Diponegoro yang datang dari arah Banjarnegara. Sungai Lebak menjadi garis demarkasi dua kekuatan. Pasukan Diponegoro di timur, Pasukan Purbalingga di barat.

Prajurit segelar sepapan Purbalingga dipimpin oleh Raden Tumenggung Tarunakusuma, adik Brotosudiro. Mereka mendapat bantuan dari Pasukan Belanda. Selain itu, datang juga bantuan pasukan dari para sekutunya, diantaranya Adipati Lanjar dan Adipati Cakranegara dari Banyumas, Adipati Panolih dari Sokaraja, Adipati Alang-Alang Bundel (Banjaran), Ngabehi Karanglewas (Kutasari) dan sepasukan orang-orang Tionghoa diabwah pimpinan Tho A Tjan dari Bayeman dan Gan Tiong Sun dari Wiradesa. Tho A Tjan terkenal dengan sebutan A Tjan, sedangkan Gan Tiong Sun disebut orang pribumi dengan panggilan Gentong Lontong.

Sementara itu, Pasukan Gabungan Diponegoro dipimpin oleh bangsawan dari Banten bernama Tubagus Buang. Pasukan Diponegoro juga dibantu Bupati Banjarnegara dengan puteranya dari trah Kolopaking, Adipati Ambal (Kebumen) juga dengan puteranya, Ki Sura Menggala dari Binorong, Banjarnegara, Ki Singa Yuda dari Singamerto dan pasukan bantuan dari Yogyakarta dibawah pimpinan Ki Purwo Suci.

Akhirnya, waktu itu tiba. Setelah beberapa kali benturan kecil puncak pertempuran terjadi di bulak yang ada di wilayah yang sekarang disebut dengan Gembrungan (Saat ini masuk di wilayah Kecamatan Kaligondang).

Saya mencoba menarasikan jalannya puncak Perang Biting, fragmen Perang Diponegoro di Purbalingga, sebagai berikut :

Matahari sudah meninggi, sore sudah menjelang di Gembrungan. Cuaca cerah terang namun suasana mencekam. Angin seperti enggan bertiup, burung yang biasanya cerewet ogah berkicau. Meski matahari sudah tak terik, panasnya belum lekang. Seekor alap-alap terbang diatas wilayah bulak luas itu, matanya yang tajam menangkap aktivitas dua kelompok pasukan bersenjata lengkap bersiaga dari angkasa.

Mereka jelas dua pihak berhadap-hadapan yang saling berlawanan. Sebagian terang-terangan menampakan diri, sebagian bersembunyi mencari posisi. Wajah-wajah mereka membesi, tegang. Senjata sudah tergenggam erat. Keris sudah siap dihunus, tombak sudah siap menghujam, busur sudah terentang dan pedang-pedang sudah telanjang siap perang. Segelintir pasukan memegang bedil, juga sudah siap dikokang.

Teriakan lantang pimpinan pasukan kedua belah pihak tiba-tiba memecah kesunyian. Itu menjadi penanda dimulainya perang. Pasukan bergerak cepat bak air dari arah yang berlawanan, teriakan memberi semangat bercampur sumpah serapah bersahut-sahutan. Saat kedua kekuatan itu bertemu, pertempuran sengit pun tak terelakan. Suara dentuman bedil, suitan anak panah, benturan pedang, keris, kelewang berkelindan dengan teriakan dan rintihan kesakitan. Darah tumpah membasahi tanah, korban pun berjatuhan.

Tak terasa, matahari sudah bersiap untuk kembali ke peraduannya. Kedua belah pihak masih saja bertempur mati-matian meski korban sudah berjatuhan. Sinar surya yang semakin meredup membuat pertempuran semrawut. Strategi sudah tidak berlaku lagi, laga menjadi ‘perang campuh’ dimana pelakunya menjadi seperti babi yang buta. Tak jelas mana kawan dan mana lawan.

Pada suatu bagian pertempuran, Adipati Lanjar terdesak dalam sebuah perang tanding. Ia pun melarikan diri pontang-panting menyelamatkan selembar nyawanya. Sabuk yang dipakainya sampai jatuh saat lari di sebuah tanjakan jalan. Tak peduli sabuknya, Ia tetap berlari, naas hari yang mulai gelap membuat matanya tak awas saat melewati sebuah sungai kecil sehingga menyebabkan dirinya jatuh terjerembab. Sang Adipati menemui ajalnya di sungai itu.

Kini, sungai itu dinamakan Kali Sumpet (kesumpet = terjerembab). Tanjakan tempat Sang Adipati naas itu sabuknya jatuh dinamakan Tanjakan Sabuk (Sekarang ada masuk di wilayah Kaligondang dan terkenal angker).

Pada bagian lain, Gan Tiong Sun alias Gentong Lontong juga tengah kewalahan menghadapi prajurit Diponegoro. Jurus-jurus kungfu yang dikeluarkan Kapiten Tionghoa itu masih dibawah level kanuragan silat lawan tandingnya. Gentong Lontong semakin terdesak dan akhirnya sebilah keris yang menancap di ulu hatinya mengahiri hidup ksatria keturunan tiongkok itu. Ia dikuburkan di Pesarean Gendung Kala Ganaceng yang berlokasi di Blok Biting, Desa Kaligondang.

Sementara itu, Tubagus Buang, Sang Panglima Pasukan Diponegoro juga tengah terdesak hebat. Ilmu silat Banten-nya tak cukup untuk menghadapi puluhan lawannya yang datang silih berganti. Meski Ia berhasil menumpas beberapa lawannya namun mereka juga bisa menorehkan luka disekujur tubuh jawara asal Banten itu. Melihat lukanya yang ‘arang kranjang’ dan mulai kelelahan, musuhnya semakin berlipat semangat. 

Akhirnya, sebuah tebasan pedang prajurit Purbalingga mengakhiri hidupnya. Sang Jawara tersungkur jauh dari tanah kelahirannya. Ia juga dimakamkan di Desa Kaligondang yang kini dikenal dengan sebutan Makam Bantenan.

Tak hanya Jawara Banten yang berkelana jauh dan berakhir hidupnya di Purbalingga. Banyak prajurit-prajurit Diponegoro lainnya yang gugur di medan laga. Mereka dimakamkan di pekuburan priyayi, Desa Kaligondang.

Malam benar-benar tiba, gelap meraja. Alam memaksa kedua belah pihak mengakhiri pertempuran. Kedua belah pihak mundur dengan keadaan compang-camping. Mereka kembali ke markasnya masing-masing untuk merencanakan strategi perang berikutnya.

Lukisan Penangkapan Diponegoro Karya Raden Saleh (Dok : Wikipedia)
Perang itu kemudian berakhir saat berita mengejutkan sampai di medan laga. Pada 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap secara licik dalam sebuah perundingan di Magelang. Sang Pangeran kemudian diasingkan Belanda. Prajurit-prajurit Diponegoro pun patah semangat mendengar pimpinan tertingginya dibuang entah kemana. Beruntung Pasukan Purbalingga juga berantakan dan kelelahan sehingga mereka juga tak bersemangat mengejar dan melanjutkan perang. Lagipula mereka, terlebih sesama pribumi, tentunya masih ada perasaan persaudaraan.


Akhirnya, gencatan senjata disepakati, perang diakhiri. Masing-masing pasukan di kedua belah pihak kembali ke daerahnya masing-masing. Namun, ada juga yang memilih menetap di Purbalingga. Ki Purwa Suci salah satu pemimpin Pasukan Diponegoro dari Yogjakarta menetap di Desa Selakambang. Ia diterima dengan baik oleh warga setempat bahkan dianggap sebagai tokoh masyarakat sampai akhir hayatnya. Makam Ki Purwa Suci oleh sebagian masyarakat sampai kini masih diangap keramat.


Tho A Tjan yang kehilangan kompatriotnya juga tak pulang ke Bayeman. Sebab dianggap berjasa, Ia dianugareahi sebidang tanah disebelah selatan Bojongsari yang sampai sekarang dikenal dengan sebutan Kutabaru.


Setelah Perang Diponegoro berakhir, Pemerintah Kolonial Belanda semakin menancapkan kukunya di Jawa. Dengan alasan untuk ganti rugi biaya perang, Belanda mencaplok wilayah mancanegara (vorstenlanden) di Karesidenan Madiun, Kediri, Kedu, Bagelen dan Banyumas, termasuk di antaranya Purbalingga. Artinya, wilayah tersebut bukan lagi wilayah Kasultanan Jogjakarta atau Kasunanan Surakarta akan tetapi resmi dibawah Pemerintah Kolonial Belanda.


Untuk Purbalingga tertuang dalam Besluit Gubernur Jenderal Belanda No. 1 yang diterbitkan tanggal 18 Desember 1830. Belanda kemudian menempatkan seorang Assistent Resident, pejabat Belanda setingkat Bupati yang berkantor di Bancar (kini Gedung Makodim). Assistent Resident Belanda pertama di Purbalingga bernama Tuan Tak.


Uniknya, hal itu justru yang dijadikan dasar Hari Jadi Kabupaten Purbalingga. Itulah yang menurut pendapat saya penetapan hari jadi yang kurang ‘patriotis’ karena justru berdasarkan beleid yang meresmikan cengkeraman Pemerintah Kolonial Purbalingga atas Purbalingga.


Baca : Menimbang Ulang Hari Jadi Purbalingga


Dadi kaya kue lur salah sawijining kisah Perang Diponegoro sing kedadian nang Purbalingga


Sumber :

1. Cerita lisan dari Almarhum Pak Tri Atmo (Sejarawan Purbalingga). Kami berkolaborasi mengampu Tabloid Kabare Bralink 2010-2013 dan saya berkontribusi dalam Buku Tokoh Purbalingga yang penulis utamanya Pak Tri Atmo.

2.  Tulisan Perang Biting dan Sesudahnya di Babad dan Sejarah Purbalingga, karya Pak Tri Atmo, diterbitkan Pemda Purbalingga tahun 1984 yang disunting dari www.seputarpurbalingga.blogspot.com

3.   Artikel Sejarah Hari Jadi Kabupaten Purbalingga di https://lintas24.com/proses-sejarah-hari-jadi-kabupaten-purbalingga.html

4.    Artikel Tentang Desa Cilapar, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga di Wikipedia

5.    Artikel Tentang Perang Diponegoro di Wikipedia

 

igo saputra Orang yang suka berkhayal dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan. Jangan berhenti berimaji..

1 Response to "Perang Biting, Fragmen Perang Diponegoro di Purbalingga"

Andika Febyanto said...

Malah nembe paham ceritane.Suwun Kang

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel