105 Tahun Soedirman (3) : Dari ‘Guru Kecil’ menjadi Kepala Sekolah

Soedirman (Dok : www.pwmu.co)
Setelah lulus dari MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Wiworotomo, Soedirman sempat belajar selama satu tahun di Kweekschool (Sekolah Guru) Persyarikatan Muhammadiyah di Surakarta. Sayangnya, Dirman terpaksa berhenti karena kekurangan biaya.

Pada 1936, Ia kembali ke Cilacap. Dirman ingin sekali untuk mengajar. Sejak sekolah, Ia pun sudah disebut ‘guru kecil’ karena seringnya membantu teman-temannya yang kesulitan belajar. Namun, Ia menyadari kekurangannya sebagai guru karena hanya lulusan sekolah menengah pertama dan tak memiliki ijazah guru.

Untuk mengatasi hal itu, Ia meng-upgrade kemampuannya mengajar. Dirman ‘les private’ kepada guru-gurunya di Wiworotomo, salah satunya kepada R. Mokhamad Kholil yang juga pimpinan Muhammadiyah Cilacap.

Akhirnya, Soedirman diterima mengajar di sebuah Sekolah Dasar / Holandsch Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah. Kendati tak berijazah guru, Soedirman pendidik yang baik. Pengalamanya sebagai ‘guru kecil’, membimbing anak-anak pandu Hizbul Wathan dan dalam berorganisasi membuatnya tertempa dalam mengajar.

Sebagai guru baru, Dirman digaji 3 gulden per bulan. Gajinya jelas jauh dari cukup untuk membiayai dirinya yang pada awal berkarier sebagai guru sudah berkeluarga dengan menikahi temannya semasa sekolah, Alfiah.

Pak Guru Dirman disukai murid-muridnya. Ia lugas dalam mengajar, tekun dan mudah dimengerti. Meski bergaji kecil, Ia sangat menjiwai dan bersungguh-sungguh sebagai pendidik.

Soedirman mengajarkan murid-muridnya pelajaran moral dengan menggunakan contoh dari kehidupan para rasul dan kisah teladan dari pewayangan. Salah seorang muridnya menyatakan bahwa Soedirman adalah guru yang adil dan sabar yang akan mencampurkan humor dan nasionalisme dalam pelajarannya.

Selain guru favorit para murid, Ia pun disenangi guru-guru lain, senior maupun junior. Sampai-sampai, meski masih muda juga tak punya ijazah guru, Ia diberi kepercayaan menjadi kepala sekolah HIS Muhammadiyah.

Setelah menjadi kepala sekolah, gajinya naik menjadi 12,5 gulden. Baginya kenaikan gaji itu cukup membantu keuangan keluarga. Namun, yang lebih penting adalah kepercayaan yang diberikan rekan-rekannya dan pimpinan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah.

Sebagai kepala sekolah, selain mengajar, Soedirman mengerjakan berbagai tugas-tugas administrasi, termasuk mencari jalan tengah di antara guru yang berseteru. Seorang rekan kerjanya mengisahkan bahwa Soedirman adalah seorang pemimpin yang moderat dan demokratis. Ia juga aktif dalam kegiatan penggalangan dana, baik untuk kepentingan pembangunan sekolah ataupun untuk pembangunan lainnya.

Ada pengalaman unik ketika Soedirman masih menjadi guru. Dia menceritakannya kepada Pak Kholil, gurunya. Suatu hari, ketika sedang mengajar, dia didatangi seorang Tambi (orang Keling dari Bombay / India) yang tak dikenalnya. Setelah becakap-cakap, orang beragama Hindu itu melihat telapak tangan Soedirman dan berkata : “Kelak engkau menjadi orang yang besar, tabahlah”.

Soedirman menganggap ramalan itu biasa saja.

Menjelang pendudukan Jepang, Soedirman terpaksa melepaskan pekerjaan yang dicintainya sebagai Kepala Sekolah HIS Muhammadiyah. Saat itu situasinya tak memungkinkan menjalankan pendidikan karena semua orang terpusat pada serangan Jepang. Dia bahkan menjadi ketua sektor LBD (Lucht Besherming Dienst) atau Dinas Perlindungan Bahaya Udara yang dibentuk Belanda.

Setelah Jepang menang dan menduduki Hindia Belanda, kariernya sebagai guru pun tamat. Sang guru kecil yang sudah menjadi guru melanjutkan karirnya di militer sampai menjadi seorang Jenderal. Inikah yang dimaksud sebagai ‘orang yang besar’ pada ramalan Orang Tambi itu?.

Wallahualam Bissawab

Bersambung

Sumber :

Artikel diolah dari data dan informasi tentang Soedirman di Wikipedia dan historia.id serta foto dari www.pwmu.co

igo saputra Orang yang suka berkhayal dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan. Jangan berhenti berimaji..

0 Response to "105 Tahun Soedirman (3) : Dari ‘Guru Kecil’ menjadi Kepala Sekolah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel