Wiro Sableng, Pendekar Pilih Tanding Tapi Merana Dalam Asmara

Wiro Sableng (www.infokampus.news.com)
Ganteng, baik hati, tidak sombong, atletis
 dadanya bidang, perutnya enam kotak, kocak, lihai mengeluarkan gombalan plus sakti mandraguna ternyata bukan jaminan urusan asmaranya lancar. Mau tahu contohnya pria yang ditakdirkan celaka seperti itu? Salah satunya adalah Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. 

Sampai tamat, murid Eyang Sinto Gendeng tuh masih perjaka tulen, belum kawin dan belum pernah hooh hoohan yang full. Pernah kawin, cuma kawin settingan. Pernah mau hoohan, itu dalam pengaruh pelet atau dalam rangka menolong orang lain dan cuma berakhir kentang alias kena tanggung doang. Tinggal leb, eh, ndak jadi..

Padahal ya, jikalau plot umum di bawah ini berlaku :

Pendekar gagah menolong perempuan, jatuh cinta, jadian, kawin.
Teman seperjuangan, witing tresno jalaran soko kulino, jadian, kawin.
Dijodohkan sama gurunya, awalnya nggak mau, akhirnya mau banget, jadian, kawin.

Niscaya pendekar dengan nama asli Wiro Saksono yang lahir dari ibu bernama Suci dengan ayah bernama Raden Ranaweleng itu mungkin sudah ratusan kali kawin mawin. Akan tetapi kenyataanya tidak. 

Nih ya, kalau di dunia lain, cowo culun nolong cewe cakep saja bisa jadian, ini pendekar ganteng nan sakti kagak jadian, padahal cewenya udah ngarep abis.  Kalau pendekar lain sama-sama berjuang menumpas kejahatan menumbuhkan benih-benih cinta lalu kawin, Wiro tidak.

Padahal, kalau dipikir-pikir kurang apanya si bliyo ini? Jejak petualangannya dashyat.  Penjelajahan Wiro membentang dari Tanah Rencong di ujung timur Swarnadipa,  mendaki Puncak Singgalang di Pulau Andalas, menikmati keindahan Ngarah Sianok di Tanah Minang, berkeliling seantero Jawa, menjelajah Tanah Pasundan, singgah di Pulau Dewata, sampai melancong ke Tiongkok dan Jepang bahkan ke negeri antah berantah bernama Latanahsilam.

Pada setiap wilayah yang dia sambangi, Ia selalu menebar kisah harum : memberantas kejahatan, membasmi kemungkaran. Tak terhitung wanita cantik yang diselamatkanya dari para durjana pemetik bunga. Berpuluh pendekar jelita silih berganti menemaninya. Namun, apa daya Wiro tetap jomblo dan bukan hanya jomblo biasa tapi JNNM alias Jomblo Ngenes Nyaris Mubazir.

Kalau Wiro sigap dan tanggap, mau puan seperti apa saja ada.  Jika melihat status, ada wanita biasa, putri bangsawan, ratu, selir sampai gundik pun ada. Tentu saja yang sama-sama dari dunia persilatan banyak. Kalau melihat asal, ada yang dari wanita jawa, mojang priangan, gadis dari aceh, minang, batak, jegeg bali, amoy china, kembang jepun sampai awewe yang berasal dari Latanahsilam atau wanita dari alam roh sekalipun ada yang mau sampai termehek-mehek sama Wiro.

Mau ciri fisik yang bagaimana? Gadis cantik eksotik dengan sepasang mata biru yang bisa tembus pandang, ada Ratu Duyung. Mau yang ramping, anggun, bermata hijau rambut pirang yang wudele bodong dan bisa mengeluarkan geni biru, ada Pandan Wangi alias Bidadari Angin Timur. Kalau mau yang rambut hitam bodi semlohai, ada Anggini, murid Dewa Tuak yang sudah dijodohkan dengan dirinya. 

Mau yang kecantikannya sampai bikin iri para peri ada Luhcinta. Kalau mau yang cakep tur gampangan, ada Luhtinti. Kepengen yang tubuhnya selalu menyebarkan bau harum tanpa pakai rexona ada Bunga, Si Dewi Bunga Mayat. Sederet nama ini juga tidak ada yang jelek, cuantik kabeh, ada Puti Andini cucu Tua Gila, Rara Murni, Luh Rembulan, Purnama, Peri Angsa Putih, Sri Kemuning, Srindi, Nyi Roro Mangut, Suti, Ratna Kaliangan, Ning Intan dan lainnya.

Dasar Wiro Katro! Coba pada posisi Wiro pria seperti kita atau kalau gak mau disama-samain ya kayak aku deh. Pasti anaknya udah di mana-mana. Terus kalau kita pergi yang ditinggalkan juga rela. Jadi, kawin, pergi, kawin, pergi, gituu teruss..

Kawin 1
“Dinda, aku harus meninggalkanmu untuk memberantas kejahatan disana”
“Baiklah Kanda, aku relakan kepergianmu”

Kawin 2.
“Dinda, aku tak mau membahayakan keselamatanmu. Aku harus pergi agar penjahat itu tak lagi menggangumu”
“Baiklah kanda, pergilah”

Kawin 3

Dan seterusnya..

Salut buat Bastian Tito, sang pencipta Wiro, bliyo memang bukan sembarang sastrawan. Ia pujangga jempolan. Menurut saya, ada maksud terpendam Pak Bastian kenapa Wiro dibuat merana dalam urusan asmara.

Pertama, Wiro adalah pendekar pembasmi kejahatan, bukan laki-laki biasa, Ia ditakdirkan harus memilih jalan pedang. Mana bisa dirinya harus konsentrasi memberantas kejahatan kalau masih harus membagi pikirannya dengan urusan asmara yang melelahkan. Banyak lelaki hebat di dunia ini enggan kawin yang untuk berkonsentrasi mewujudkan cita-citanya, contohnya ada Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya, Ceng Ho yang memimpin muhibah keliling dunia, Galileo Galilei penemu hebat, Edmon Kirsch ilmuwan philantropis ala Dan Brown dan lainnya.

Kedua, Wiro pendekar baik budi, tentu tidak ingin membahayakan orang lain apalagi orang yang dicintainya. Tentu pula, Ia tak tega melihat istri atau kekasihnya atau anaknya nanti merana jika Ia harus berkalang tanah saat berjuang membasmi kemunkaran.

Ketiga, Bastian Tito ingin memberikan wejangan cinta bahwa wanita itu butuh kepastian. Wiro dijadikan kaca benggala bahwa ketidakpastian alias ke PeHaPe-an-nya kepada wanita harus dibayar dengan resiko ditinggalkan. Secinta-cintanya wanita jika tak diberi garansi kepastian lelah juga, mereka menyerah, lalu memilih move on. Bidadari Angin Timur contohnya yang memilih untuk membuka lembaran baru dengan Hantu Jatilandak.

Keempat, bokapnya Si Vino G. Bastian itu juga mau bilang bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sudah ganteng, sakti, kocak, baik budi dan dikelilingi wanita cantik tak jaminan urusan asmara lancar. Tak semua cerita harus happy ending, adapula yang harus diakhiri kesedihan, kekecewan bahkan dendam.

Kelima, ini pesan yang paling penting. Lelaki nakal boleh tetapi harus ada batasannya. Contoh Si Wiro, meski banyak wanita termehek-mehek bukan berarti kamu bebas untuk menikmatinya apalagi menyakitinya. Pada dunia yang semakin edan ini, Wiro semakin relevan sebagai teladan. 

Suatu ketika Wiro lagi ngobrol soal pribadi dengan Ratu Duyung. Wiro ditanya soal hubungannya dengan wanita dan status keperjakaanya. Pendekar pilih tanding itu menegaskan kalau zina mata, tangan, telinga mungkin ia sudah melakukanya berkali-kali, tapi zina badaniah belum.

“Kalau zina mata atau tangan atau telinga mungkin sudah pernah aku lakukan. Aku bukan manusia tanpa rasa. Tapi kalau zina badaniah yang kau maksudkan, itu belum pernah melakukan. Tuhan masih memeliharakanku dari yang satu itu...”

Aih, beraaatzz bukan...?
--
Catatan :
Tulisan ini didedikasikan untuk salah satu tokoh idolaku, Wiro Sableng. Many thanks buat Bastian Tito dan Firdaus Asykar (mojok.co) atas inspirasinya.

igo saputra Orang yang suka berkhayal dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan. Jangan berhenti berimaji..

0 Response to "Wiro Sableng, Pendekar Pilih Tanding Tapi Merana Dalam Asmara"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel