Salam Lestari : Ancaman Mantangan

Daripada kosong ku posting aja tulisanku di Majalah Tempo dulu. Itung-itung buat fileku..hehe. Ini dia...
--
WIDODO Ramono dilanda resah. Kepala Yayasan Badak Indonesia ini semak hati memikirkan nasib satwa liar yang semakin sulit ditemui di habitat aslinya, di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Terancam oleh perburuan liar dan makin sempitnya habitat, badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) kini mempunyai musuh baru yang tidak kalah mematikan: mantangan.

Mantangan (Merremia peltata) adalah tumbuhan yang mirip ubi jalar. Masyarakat setempat menyebutnya "akar mencret". Tumbuhan ini menjalar begitu pesat ke mana-mana. Dalam waktu singkat, area hutan yang menjadi habitat badak dan mamalia besar lainnya di TNBBS terampas oleh tumbuhan tersebut.

"Dari pengamatan foto udara dan monitoring yang kami lakukan, terlihat mantangan merambah kawasan seluas 7.000 hektare di Taman Nasional," kata Widodo, yang juga mantan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan, kepada Tempo. Sepekan sebelumnya, dia menggelar jumpa pers tentang masalah ini di Bogor. Dalam enam tahun terakhir, kata Widodo, area hutan yang ditutupi mantangan telah bertambah 1.000 hektare.

Widodo khawatir kelangsungan hidup satwa yang menjadi fokus penyelamatan lembaganya semakin terancam oleh mantangan. Dengan populasi terakhir diperkirakan 65-85 ekor, jejak badak pun kini semakin sulit ditemui di Taman Nasional, terutama di kawasan selatan, karena wilayahnya didominasi mantangan.

Jika tidak ditangani serius, kata Widodo, kisah banteng (Bos javanicus) di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, yang hampir punah akibat habitatnya diekspansi tumbuhan bisa terulang di Bukit Barisan Selatan. Di Baluran, padang rumput yang menjadi habitat asli banteng porak-poranda dijajah tanaman akasia duri (Acacia nilotica) yang tumbuh di luar kendali. Padahal akasia awalnya dikenalkan sebagai tanaman penyekat kebakaran.

Kurnia Rauf, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung, mengakui ancaman mantangan memang serius. Menurut data Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, mantangan tumbuh seluas 7.008 hektare. "Tanaman itu sulit dibasmi. Ia hidup liar dan mengganggu kelestarian pohon besar dan binatang liar yang ada dalam kawasan," kata Kurnia.

Tak hanya kelestarian binatang liar di dalamnya, pertumbuhan tanaman menjalar itu pelan tapi pasti juga mengancam kelestarian hutan tropis seluas 356.800 hektare di Lampung dan Bengkulu. Padahal taman nasional itu telah ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia (Cluster Mountainous Tropical Rainforest Heritage Site of Sumatera). TNBBS merupakan habitat utama bagi harimau di Asia Tenggara, juga badak dan gajah Sumatera.

Kurnia mengatakan mantangan tidak hanya berkembang biak melalui buah, tapi juga melalui akar. Dari setiap batang yang menempel di tanah pun bisa muncul akar yang siap menjadi tanaman baru. Mantangan kemudian menjalar dan mencari ruang terbuka dengan sinar matahari melimpah. Selain itu, jenis tanah podsolik merah-kuning di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan disukai mantangan.

Di wilayah Tambling, misalnya, tanaman menjalar dengan daun bundar itu kini sudah merambah sedikitnya 5.000 hektare lahan kawasan Taman Nasional. Tanaman itu menutupi semua permukaan tanah hingga ketebalan 0,5-1 meter.

Mantangan termasuk tanaman predator, ia menjalar dan "mencekik" pohon-pohon besar yang ditumpanginya. Daunnya yang rimbun menyelimuti daun pohon inang. "Akibatnya, lama-kelamaan pohon besar yang diselimuti mati karena tidak mendapat sinar matahari untuk berfotosintesis," ujar Kurnia.

Di sisi lain, kawasan Taman Nasional, yaitu di Pemerihan, Kabupaten Lampung Barat, mantangan menjalar di setiap permukaan tanah hingga tepi jalan beraspal. Ratusan pohon besar di kawasan itu mulai "dicekik" daun mantangan. "Tinggal menunggu ajal," kata Zubaidi, polisi hutan yang menjaga kawasan itu.

Menurut Kurnia, mantangan mulai masuk TNBBS pada 1970-an, bersamaan dengan dimulainya pemberian konsesi penggunaan hutan di wilayah barat dan timur kawasan. Pemanfaatan hutan itu membuat beberapa daerah jadi terbuka, memberi kesempatan mantangan tumbuh subur. "Perambahan hutan dan pembalakan liar yang marak pada 1990-an menambah jumlah daerah terbuka," katanya.

Mantangan memang tumbuh subur di daerah terbuka bekas tebangan. Disiram sinar matahari yang berlimpah, ia dengan cepat menjalar dan menutupi setiap tanah terbuka yang ditinggalkan para perambah dan pembalak liar. Pada 2002, luas penyebaran mantangan mencapai 6.393 hektare. Pada 2008, bertambah luas menjadi 7.008 hektare.

Batang tanaman mantangan yang menjalar dan menutup permukaan tanah menghambat pergerakan satwa liar berbadan besar. Satwa seperti badak, gajah, harimau, tapir, dan rusa enggan datang ke wilayah yang dikuasai mantangan. Mantangan memang senang tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian nol hingga 450 meter di atas permukaan laut. "Itu daerah kesukaan gajah, harimau, dan rusa," kata Kurnia. Akibatnya, area yang menjadi habitat mereka menjadi terbatas. Mereka pun sulit mencari makan.

Kurnia mencontohkan hasil pemantauan terhadap pergerakan Agam, harimau Sumatera yang dilepasliarkan tahun lalu. Melalui GPS, raja hutan ini terlihat selalu menghindari area tanaman itu. Area pergerakannya pun menjadi sangat terbatas karena tidak bisa menyeberangi "lautan" mantangan.

Celakanya lagi, tidak ada satwa yang mau memakan daun mantangan. Itu membuat mantangan berkembang biak lebih cepat karena tidak ada penghambat alami bagi tumbuhan itu. "Gajah dan rusa tidak mau makan daun mantangan. Mereka bahkan seperti menghindar dari tanaman menjalar itu," katanya.

Upaya pemberantasan tanaman tersebut bukan tak pernah dilakukan. Pada 2005, petugas TNBBS bekerja sama dengan PT Adhiniaga Kreasinusa dan penduduk sekitar membersihkan mantangan di wilayah Tambling dengan cara mencabut dan menyemprotkan herbisida. Tiga tahun kemudian, mereka mengeruk tanaman itu dengan alat berat. Mereka berhasil membersihkan area seluas 200 hektare dari mantangan. "Setahun berikutnya, setengah area yang telah dibersihkan ternyata kembali ditutupi mantangan," katanya.

Pembersihan itu gagal karena tidak sampai mengangkat akar mantangan. Akar mantangan yang tersisa di dalam tanah kembali melahirkan tunas-tunas baru yang berkembang dengan pesat. Untuk membersihkan mantangan yang menjalar dan menutupi pohon-pohon besar tidak mudah. Umumnya, mantangan yang mencekik pohon besar memiliki batang sangat besar. Harus dipotong dengan gergaji mesin. Ancaman tak kalah serius terlihat ketika musim kemarau tiba. Daun mantangan yang kering mudah terbakar.

Untuk membasmi mantangan itulah, Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan memulai proyek penelitian pada 2009. Riset ini bertujuan mencari jalan keluar yang aman menyingkirkan mantangan kawasan hutan tropis warisan dunia itu.

Menurut Widodo, selain menggunakan cara mekanis, mantangan bisa dibasmi dengan herbisida. Cara ini pernah dilakukan di Kepulauan Samoa dan Fiji. Namun penggunaan herbisida berbahan kimia malah menimbulkan ancaman baru bagi kawasan hutan di Taman Nasional: pencemaran tanah. Karena itu, cara yang paling aman adalah mencari musuh biologis mantangan yang hingga saat ini belum ditemukan.

Untungnya, Taman Nasional Way Kambas, yang juga berada di Lampung, belum terkena wabah mantangan. "Ada, tapi tidak separah di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan belum menjadi ancaman serius," kata Jhon Kenedie, Kepala Balai Besar Taman Nasional Way Kambas.

Gunanto E.S., Nurochman Arrazie (Lampung)

Diterbitkan di Majalah Tempo 10 Februari 2010
igo saputra Orang yang suka berkhayal dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan. Jangan berhenti berimaji..

0 Response to "Salam Lestari : Ancaman Mantangan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel