Barisan Bengseng Soeci : Saat Mantan Penjahat Berjuang Melawan Belanda di Purbalingga

Laskar Pejuang Perang Kemerdekaan (Dok : Intisari)
Perjuangan meraih dan mempertahankan kemerdekaan tak melulu oleh Tentara, akan tetapi seluruh lapisan masyarakat turut bangkit dan melawan, termasuk para preman, penjahat, bajingan bahkan narapidana.

Saya sering ngobrol sejarah salah satunya dengan Okta Prihastono, ilustrator handal Purbalingga, kemudian membayangkan, mereka-reka, merekonstruksi kejadian saat itu. Seringkali saya menyampaikan bahwa pekik perjuangan tak hanya ‘Allahu Akbar!’, ‘Merdeka atau Mati’, ‘Majuu’, ‘Serang’ tetapi juga bisa jadi umpatan cacarucah ora nggenah seperti ‘Kumpeni Asu!’, ‘Landa Jancuk!’, ‘Modar Koe Landa Ireng’ dan lainnya.

Mereka, para bromocorah termasuk pelaku kriminal ini, juga berperan dalam perjuangan kemerdekaan, namun, seringkali terlupakan. Padahal, perannya cukup besar dan vital.

Nah, di Purbalingga ada kisah seorang penjahat kambuhan yang akhirnya bergabung dengan pejuang. Ia terbakar rasa patriotismenya dan bangkit mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan negerinya.

Namanya singkat, Parna. Ia warga Desa Karangmalang, Kecamatan Bobotsari. Sejak remaja parna sudah bergelimang kejahatan, berbagai tindakan kriminal sudah dilakukannya. Parna termasuk penjahat kelas kekap, maka dari itu, dirinya bolak-balik masuk bui.

Jalan hidupnya berubah 180 derajat saat Agresi Militer Belanda untuk menjajah kembali negeri ini dilancarkan dan sampai di wilayah panginyongan. Saat itu, Ia sedang berada di balik jeruji besi sebagai tahanan kelas berat Penjara Nusakambangan.

Republik sedang membutuhkan tenaga untuk melawan kumpeni. Tentara yang ada tentu saja jauh dari memadai untuk sebuah negara yang baru berdiri. Kesatuannya belum terbentuk mapan, senjata juga mengandalkan rampasan pasukan Jepang.

Sebagai solusinya, salah satu pimpinan TNI saat itu, Soemitro Kolopaking menawarkan kepada narapidana Nusakambangan untuk bergabung melawan Belanda. Imbalannya kebebasan. Tanpa pikir panjang, Parna saat itu memilih untuk bergabung untuk berjuang.

Catatan : Raden Soemitro Kolopaking yang masih berdarah bangsawan Mataram kemudian menjadi Bupati Banjarnegara.

Para eks napi itu kemudian membentuk laskar yang menamakan dirinya ‘Barisan Bengseng Soeci’ (BBS). Bengseng adalah sebutan untuk penjahat. Soeci disematkan sebagai semangat bahwa mereka telah berubah untuk perjuangan suci mempertahankan kemerdekaan negerinya.

Sebagai eks kriminil, Parna dan teman-temanya tentu saja bernyali besar. Ia juga paham teknik-teknik serta tips garong yang baik dan benar. Oleh karena itu, keahliannya dimanfaatkan untuk operasi-operasi senyap terhadap militer Belanda, salah satunya merampok gudang-gudang bahan makanan dan persenjataan.

Parna bercerita, salah satu kesuksesannya adalah membobol gudang senjata di Bobotsari. Suatu malam, mereka mengendap-endap, kemudian berhasil mengelabui penjaga gudang senjata yang merupakan eks gudang garam milik pengusaha Tionghoa itu. Komplotannya berhasil mencuri dua buah karaben (senapan mesin), sembilan belas bedil (senjata laras panjang), dua pucuk pistol serta berlusin peluru dan berkotak mesiu.

Keberanian mereka pun mendapatkan acungan jempol dari pimpinan. Parna dengan Barisan Bengseng Soeci-nya ternyata cukup bisa diandalkan.

Parna juga bercerita tentang keberanian dua orang rekanya sesama eks napi Nusakambangan bernama Ralaga dan Sarwali. Mereka berdua menggabungkan diri dengan kesatuan pejuang dari Kompi Jamurdipa pimpinan Kapten Yasir Hadibroto. Ralaga dan Sarwali memiliki keberanian luar biasa dan menjadi andalan kesatuannya yang beroperasi sampai ke Cilacap itu.

Suatu hari, Kompi Jamurdipa bertempur hebat dengan patroli Belanda. Para pejuang terdesak dan untuk mengamankan gerak mundur pasukannya, Sarwali mengorbankan dirinya. Dengan gagah berani, Ia maju seorang diri. Sarwali pun gugur. Tubuhnya ambruk diberondong senapan mesin Belanda.

Sementara Ralaga diceritakan selamat dan masih hidup sampai Agresi Militer Belanda berakhir. Namun, Parna tak penah berjumpa lagi dengan Ralaga. Selain kisah di Purbalingga dan Cilacap, BBS juga ada di Banjarnegara yang dipimpin oleh Sahudi asal Sumampir, Banjarnegara. Usai perang, Sahudi dipercaya menjadi kadus (kepala dusun) di desanya.

Kemudian, Parna juga menceritakan peran BBS dalam pertempuran heroik di Bobotsari, yang berpusat di desanya Karangmalang. BBS bersama TNI dari Kompi Pujadi dan Kompi Kusworo bahu membahu dengan Pasukan Pelajar IMAM (Indonesia Merdeka Ataoe Mati) dan pemuda setempat menghadang partoli besar-besaran yang digelar Belanda.

Saat itu pihak republik berhasil membuat Belanda kerepotan dan menimbulkan kerugian besar. Akhirnya, Belanda mengerahkan seluruh kemampuanya termasuk dukungan pesawat tempur dari Lanud Wirasaba untuk membombardir Bobotsari. Hasilnya, Bobotsari menjadi lautan api dan Karangmalang menjadi Karangabang.

( Selengkapnya mengenai Kisah Bobotsari Lautan Api sudah saya tulis dan bisa dibaca di sini )

Kisah Parna ini ditulis oleh Mayor (Purnawirawan TNI) Pdt. Dr. A. Abu Arifin, anggota pasukan pengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam buku ‘Dengan Semangat Jenderal Soedirman : Purbalingga Berjuang dan Membangun’ (Halaman 57-71). Parna diwawancara pada 2 Juni 2007 pada usia sekitar 82 tahun.

Mayot (Purn) Dr. Abu Arifin (Dok : www.rappler.com)
Ternyata preman dan para pelaku kriminal memang banyak yang dilibatkan dalam perjuangan kemerdekaan. Pada artikel berjudul ‘Revolusi RI : Perman dan Jagoan Menjadi Tentara’ yang dilansir Tirto.id diceritakan bahwa Indonesia lahir dan dipertahankan berkat andil para preman, jagoan, penjahat dan narapidana.

Misalnya, preman-preman pimpinan Jan Rapar dan Evert Langkai yang tergabung dalam Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi (KRIS) menjaga wilayah Menteng ketika Naskah Proklamasi dirumuskan menjelang 17 Agustus 1945. Mereka juga turut bertempur ketika kemerdekaan hendak diinjak-injak Belanda.

Kemudian, ada Kahar Muzakar juga turut membebaskan 800 tahanan di Penjara Nusakambangan, terutama yang beretnis Bugis untuk direkrut menjadi laskar yang diberi nama Batalyon Kemadjuan Indonesia (BKI). W.O Pohan mendesak Ketua Pengadilan Mr.Indrakusuma membebaskan napi Penjara Kalisosok untuk dijadikan laskar pejuang yang dinamakan Barisan Maling.

Salah satu pahlawan kita, Moestopo membentuk Tentara Rahasia Tinggi yang terdiri dari narapidana, komplotan pencuri dan pelacur untuk melakukan berbagai aksi teliksandi dan sabotase. Ada juga kumpulan jagoan dan preman pimpinan Bang P’ii di Kawasan Senen yang tergabung dalam Laskar Rakjat Djakarta Raja.

Itulah sekelumit kisah tentang kaum terpinggirkan seperti penjahat, bajingan, preman bahkan narapidana yang mendarmabaktikan jiwa dan raganya demi meraih dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk di purbalingga ada Pak Parna dengan Barisan Bengseng Soeci-nya.

Kayakue lur... muga-muga tulisan kiye manfangat nggo ngemut-emut perjuangane para pahlawan sing wis mempertahankan kemerdekaan karo jiwa lan ragane.

Sumber :

1.    Buku ‘Dengan Semangat Jenderal Soedirman : Purbalingga Berjuang dan Membangun’ karya Mayor (Purnawirawan TNI) Pdt. Dr. A. Abu Arifin

2.    Artikel Tirto.id berjudul Revolusi RI : Saat Jagoan dan Preman menjadi Tentara yang bisa dibaca di sini

igo saputra Orang yang suka berkhayal dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan. Jangan berhenti berimaji..

0 Response to "Barisan Bengseng Soeci : Saat Mantan Penjahat Berjuang Melawan Belanda di Purbalingga"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel