Pertempuran Lamuk

Ilustrasi Perang Kemerdekaan (Dok : Liputan6.com)
Agresi Militer II yang dilancarkan Belanda untuk merebut kembali Indonesia mendapatkan perlawanan sengit, tak terkecuali di ‘Bumi Perwira’. Tak hanya tentara, pelajar dan rakyat juga bahu membahu mempertahankan kemerdekan Indonesia yang berusia masih sangat muda.

Salah satu fragmen perjuangan rakyat Purbalingga melawan agresi militer Landa Durjana, terjadi di Desa Lamuk dan sekitarnya. Saya sebut saja sebagai Pertempuran Lamuk. (Desa Lamuk saat ini masuk di wilayah Kecamatan Kejobong, Purbalinga)

Saya dulu mendengar sedikit cerita eyang soal kejadian ini, hanya sekilas. Lalu, saya coba menggali lebih lanjut. Ada sumber tertulis tentang Pertempuran Lamuk pada salah satu bagian buku Alm. Bapak Tri Atmo, Darah Gerilyawan : Jejak Perjuangan Gerilyawan Purbalingga, 1942-1949. (Bersama Pak Triatmo, saya mengampu Tabloid Kabare Bralink 2010-2015)

Pertempuran Lamuk terjadi pada awal minggu ketiga, Juli 1949. Saat itu pasukan republik yang baru saja menggempur posisi Belanda yang ada di Kota Purbalingga dan Banjarsari, Sokaraja. Mereka yang berasal dari kesatuan Kompi Kusworo kemudian menyingkir ke wilayah timur Purbalingga. 

Mereka menyebar di tiga tempat. Seksi Guruh menempati Desa Bandingan, Seksi Jarot mengambil posisi di Desa Gumiwang dan seksi Guntur di Desa Penolih. Kemudian ada satu seksi Pasukan Pelajar IMAM di Desa Kebutuh. Kapten Kusworo sendiri sebagai pimpinan mengambil posisi di Gumiwang.

IMAM yang menjadi nama Pasukan Pelajar bukanlah nama seseorang melainkan singkatan dari ‘Indonesia Merdeka Ataoe Mati’. Pasukan Pelajar IMAM merupakan kesatuan pasukan dengan anggota para pelajar tingkat SLTP dan SLTA yang beroperasi di Karesidenan Banyumas.
Lambang Pasukan Pelajar Imam (Dok : bayu-bije69.blogspot.com)
Sebagai informasi, pada saat itu, wilayah Purwokerto, Sokaraja dan Purbalingga kota sudah dikuasai Belanda. Posisi Pejuang Republik banyak berada di wilayah Timur Purbalingga dan Banjarnegara. Garis Demarkasi van Mook yang membagi wilayah pendudukan Belanda dan wilayah Republik adalah Sungai Pekacangan. Kalau kata eyang, orang dulu nyebutnya Jaman Garis.

Militer Belanda merespon gempuran Tentara Republik. Pada Selasa dini hari, 19 Juli 1949, mereka mengerahkan tiga peleton tentara KNIL (Koninklijke Nederlandsch Indische Leger alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dari Batalyon Infanteri XI Gajah Merah untuk mengadakan patroli ke wilayah republik.

Pasukan KNIL dipimpin oleh perwira berkebangsaan Eropa tetapi anggotanya sebagian besar adalah pribumi, ada orang Ambon, Irian, Manado dan orang Suriname keturunan Jawa. Cirinya, mereka berkulit hitam dan banyak yang memakai giwang di telinga.
Pasukan KNIL (Dok : detik.com)
Ketiga peleton berangkat susul menyusul dengan jalur berbeda tetapi titik kumpulnya sama, yaitu di Desa Lamuk untuk kemudian menyeberang ke Bukateja. Peleton pertama, yang berangkat melewati Bancar dengan truk diturunkan di Gembrungan. Mereka lalu melanjutkan dengan jalan kaki. Sekitar jam 03.00 dinihari sudah sampai di Penolih dimana Pasukan Seksi Guntur berada. 

Peleton kedua, menyusul dan mengambil posisi di Dukuh Bedahan. Sementara, peleton ketiga mengepung dari arah Desa Larangan.

Ketiga peleton bergerak susul menyusul ke arah Desa Lamuk. Sepanjang jalan mereka berpatroli sambil menembaki secara membabi buta penduduk yang ditemuinya. Lelaki, perempuan, tua, muda semuanya jadi sasaran. Banyak penduduk yang terluka dan meninggal dunia.

Akibatnya, ada 14 penduduk dari Lamuk, 9 orang penduduk Penolih dan beberapa penduduk Bandingan meninggal dunia. Banyak juga yang menderita luka karena ditembak di bagian yang tidak vital seperti kaki, lengan dan lainnya. Beberapa orang wanita juga diperkosa.

Warga Desa Lamuk dan sekitarnya pun kocar-kacir. Mereka banyak yang menyingkir dan sembunyi di Bukit Indrakila.

Jalannya Pertempuran
Pasukan Republik tak tinggal diam. Seluruh pasukan dikerahkan ke Desa Lamuk untuk menggempur Pasukan ‘Andjing NICA’ yang sudah berkumpul disana dan bermaksud menyeberangi Sungai Pekacangan untuk menuju Bukateja.

Jelang siang, sekitar pukul 10.00 WIB pasukan Belanda sudah sampai di bibir sungai. Pasukan Pelajar IMAM yang masih belia tapi terkenal nekat berada di posisi paling depan. Mereka yang terdiri dari Regu Siswoyo dan Regu Sumarno, mengendap-endap, di belakang peleton Belanda.

Setelah pasukan Belanda semua turun dari tebing, komando terdengar lantang dari komandan Pasukan Pelajar IMAM. Seraaanggg... Tembaak! Tanpa ampun, mereka memberondong Pasukan Belanda yang tengah menyeberang sungai. Duar Duar Dorr Dorr... Korban pun berjatuhan di pihak pasukan penjajah itu.

Pasukan Belanda yang sadar menjadi sasaran empuk segera berlindung di parit-parit ladang sebelah selatan Sungai Pekacangan. Mereka kemudian memperbaiki posisi dan balik menggempur dengan senapan mesin dan mortir.

Posisi Pasukan Pelajar IMAM yang berada di tebing, posisinya lebih tinggi, terlindung batu dan semak perdu, sehingga meski jaraknya dekat, tidak efektif untuk diserang dengan senapan mesin dan lontaran mortir.

Lontaran mortir itu justru ‘kelawung’ mengenai Pasukan Seksi Guntur yang datang belakangan dan posisinya berada di belakang Pasukan Pelajar IMAM. Salah satu anggota Pasukan Seksi Guntur, gugur terkena mortir di kepalanya.

Salah Paham
Ada saja kisah sedikit konyol dalam pertempuran, termasuk dalam pertempuran Lamuk itu.
Jadi, Seksi Guntur dan Pasukan Pelajar IMAM salah paham antar posisi mereka. Sebab keduanya terhalang kebun dan rumah penduduk dan lontaran mortir Belanda yang menghujani Seksi Guntur dikira berasal dari depannya yang merupakan posisi Pasukan Pelajar Imam.

Maka, seksi Guntur pun membalas tembakan ke arah depannya yang sebenarnya dari Belanda. Pasukan Pelajar IMAM juga mengira tembakan di belakangnya dari Pasukan Belanda yang datang mendukung rekannya. Sesama pejuang republik itupun saling tembak.
Salah Satu Foto Pasukan Pelajar pada Perang Kemerdekaan. Modis juga yaa mereka.. hehe (Dok : historia.id)
Di tengah serunya baku tembak itu, ada seorang penduduk yang datang tergopoh-gopoh, memberitahu Pasukan Pelajar IMAM bahwa ada sepasukan Belanda yang bergerak melingkar ke arah posisi mereka. Melihat kondisi itu, Pasukan IMAM memilih mundur ke arah Gumiwang bergabung dengan Kapten Kusworo.

Ternyata yang bergerak melingkar adalah bagian dari Seksi Guntur dibawah pimpinan Letnan Suparmin yang seragamnya mirip KNIL. Mereka menjumpai bekas posisi pertahanan Pasukan Pelajar IMAM di tebing sungai yang penuh dengan selongsong peluru. Sementara Belanda sudah menjauh ke Bukateja.

Pertempuran pun usai. Setelah itu, pasukan republik bahu membahu untuk menguburkan korban. Selain penduduk, korban jatuh di tentara republik hanya seorang dari Seksi Guntur, tidak ada personel dari Pasukan Pelajar IMAM yang menjadi korban. 

Sementara, dari pihak Belanda terhitung cukup banyak korban jatuh akan tetapi langsung dibawa truk sehingga tidak diketahui jumlahnya.

Seusai prosesi pemakaman, Pasukan Republik meninggalkan Desa Lamuk untuk bergabung dengan pasukan lainnya.

Agresi Militer Belanda II itu berakhir dengan kegagalan Belanda menguasai kembali Bumi Pertiwi kita tercinta. TNI dan rakyat yang bersatu padu berhasil membuat mereka kewalahan. Akhirnya ,pada 23 Agustus 1949 diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Tak lama kemudian, pada Desember 1949, Belanda resmi mundur dan menarik pasukannya dari negeri ini dan Indonesia bisa berdaulat penuh.

Pertempuran Lamuk ini menjadi salah satu fragmen kecil perjuangan rakyat Purbalingga untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan NKRI.

Merdeka!!!
igo saputra Orang yang suka berkhayal dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan. Jangan berhenti berimaji..

1 Response to "Pertempuran Lamuk"

bhaktimardians.blogspot.com said...

Kakek buyut saya adalah salah satu korban meninggal di pertempuran Lamuk ini, namanya Sunardji. Kakaknya namanya Sunardja juga menjadi korban tetapi berhasil bertahan hidup. Salam dari warga Lamuk asli.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel